Minggu, 03 Desember 2017
Rabu, 29 November 2017
Ketika Nabi
mengetahui bahwa ajal menghampirinya, ia mengumpulkan sahabat-sahabat
terdekatnya. Mereka sangat sedih. Banyak diantara mereka yang merasa dirinya
tidak dapat hidup tanpa bimbingan dan petunjuk beliau. Nabi menghibur mereka
dengan berkata, “Aku akan meninggalkan dua orang guru. Yang pertama adalah guru
yang berbicara dan yang lainnya adalah guru
yang diam.” Para sahabat mulai mengira-ngira identitas guru tersebut,
lalu Nabi menambahkan, “Guru yang berbicara adala Al-Qur’an, dan guru yang diam
adalah kematian.”
Merenungi
kematian adakah sarana kuar biasa untuk mengeluarkan diri kita dari kebiasaan
dan perilaku lama. Memikirkan kematian adalah sebuah latihan untuk lebih peka
akan masa kini. Itulah jalan untuk memulai proses pertumbuhan diri.
Beberapa
tahun yang lalu, dua orang pasien dijadwalkan untuk operasi di sebuah rumah
sakit besar di Istanbul. Yang pertama pria belia berpenyakit usus buntu, dan
yang kedua pria tua berpenyakit kanker. Ahli bedah yang sama melakukan operasi
pada kedua orang tersebut. Operasi usus buntu dilakukan dengan sederhana dan
berahir cepat. Ketika sang dokter mengoperasi pria yang berpenyakit kanker, ia
melihat kanker tersebut telah menyebar sedemikian rupa sehingga tidak mungkin
lagi dioperasi. Ia sekedar menutup kembali pembedahan tersebut.
Sang dokter
mengatakan bahwa si pemuda mungkin memiliki kesempatan hidup yang panjang,
tetapi si pria tua itu tidak akan bertahan lama. Malam itu, pria muda tersebut
meninggal dunia dan dalam beberapa hari si pria tua meninggalkan rumah sakit.
Beberapa bulan kemudian, ia kembali ke rumah sakit membawakan sang dokter
buah-buahan dan sayuran segar dari kebunnya, tampaknya ia dalam kondisi
kesehatan yang baik.
Kita tidak
mengetahui berapa lama lagi waktu yang kita miliki. Kita mungkin berpikir bahwa
kita kuat dan sehat dan memiliki masih banyak waktu, tapi kita harus selalu
sadar bahwa kematian dapat datang kapan saja. Bahkan, jika kita memiliki
penyakit yang serius, seperti kanker, kita harus ingat bahwa jika Tuhan
mengizinkan, kita mungkin saja memiliki umur panjang.
Mengenai
kematian, kita harus menumbuhkan dua sikap penting. Pertama, kematian adalah keniscayaan. Kedua, menyadari bahwa kita tidak tahu kapan ajal menjemput kita.
Ia mungkin saja bulan depan atau beberapa tahun dari sekarang, namun kita kita
tidak mengetahuinya dan memastikannya.
Langganan:
Komentar (Atom)
